Monday, February 20, 2012

Cinta [1]



Cinta itu bagaikan mutiara
Jika kita tidak menghargainya,
Samalah seperti sang kera mendapat sejambak bunga.
Maka dari itu, hargailah Cinta Ilahi

Nur Hakimah bt Abdollah (lepasan SPM)
5 Feb 2012
Kem Kepimpinan Mahasiswi Nasional
Kuala Kangsar

Thursday, February 16, 2012

KEM KEPEMIMPINAN MAHASISWI NASIONAL (KEMAS ’12)

Setinggi-tinggi kesyukuran dipanjatkan kehadrat Ilahi atas limpah dan kurniaNya, program KEMAS ’12 berjaya dilaksanakan pada 3 hingga 5 febuari yang lepas. Selawat dan salam atas Nabi junjungan Muhammad S.A.W kerana atas usaha baginda dan para sahabat mengeluarkan ummat manusia dari kepompong kegelapan.

Program KEMAS’12 yang dilaksanakan di Villa Cikgu Hashim, pekan Kuala Kangsar berjaya mengumpulkan mahasisiwi-mahasiswi yang berjiwa kental dari segenap penjuru Malaysia. Antara pengisian yang ditekan pada KEMAS’12 adalah bagaimana memposisikan peranan HEWI dalam kalangan masyarakat.

Selama tiga hari peserta yang terdiri dari kepimpinan Majlis HEWI peringkat Negeri dan Kampus telah diberi pengisian berbentuk tarbiyyah harakiah, peranan wanita dalam dakwah lapangan dan juga menyentuh aspek pengurusan emosi dan hati yang sinonim dengan wanita.

Selain daripada itu, program ini juga berjaya memuatkan aktiviti kemasyarakatan, dimana semua peserta dikehendaki untuk membuat sesi temu rumah dengan masyarakat setempat serta pelancong yang datang berkaitan beberapa isu semasa. Mereka juga diminta untuk mengemukakan pendapat tentang sambutan ‘Maulud Nabi’ dan pemahaman Islam. Dapatan dari aktiviti ini mendapati bahawa masyarakat rata-ratanya masih tidak peka dengan pengamalan Islam secara keseluruhan. Malahan, sensitiviti terhadap hari keputraan Baginda Nabi Muhammad s.w.t juga tidak dihayati dengan baik oleh segelintir golongan. Rentetan dari aktiviti ini membuahkan beberapa resolusi untuk Majlis HEWI turun ke lapangan masyarakat dalam membantu mereka memahami Islam dengan lebih mendalam.

Oleh yang demikian, Majlis HEWI Kebangssan (MHK), selaku penganjur Kem Kepemimpinan Mahasiswi Nasional [KEMAS’12] mengharap supaya mahasiswi-mahasiswi yang lahir daripada KEMAS’12 ini mampu untuk terlibat secara proaktif dalam misi mendidik masyarakat secara aktivisme dan memanfaatkan kelebihan advokasi yang sedia ada.

‘ATIQAH SYAIRAH SHAHRUDDIN
Timbalan Pengerusi HEWI 1
Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM)

Wednesday, October 19, 2011

FATIMAH AZ-ZAHRA AS, PENGHULU WANITA SEMESTA

Bismillahirrahmanirrahim

Mukadimah

Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.

Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.

Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”

Di lain kesempatan, beliau bersabda, “Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua.” (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).

Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.

Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.

Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.

Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.

Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.

Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.

Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.

Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.

Putri tersayang Nabi Muhammad saw.

Istri tercinta Imam Ali as.

Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.

Hari Lahir

Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj beliau.

Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.

Fatimah di Rumah Wahyu

Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.

Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.

Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”

Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.

Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.

Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.

Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.

Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.

Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Pernikahan Fatimah as

Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”

Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?”

Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Pernikahan

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”

Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”

Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.

Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.

Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.

Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.

Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.

Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.

Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.

Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.

Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur’an.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.

Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.

Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.

Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.

Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.

Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.

Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.

Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”

Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.

Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.

Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.

Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.

Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.

Kepergian Sang Ayah

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.

Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk.

Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.

Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.

Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.

Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.

Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.

Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.

Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.

Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”

Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.

Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.

Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.

Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.

Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.

Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.

“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”[]

Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as

Nama : Fatimah.

Julukan : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.

Ayah : Mahammad.

Ibu : Khadijah binti Khuwailid.

Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.

Tempat : Makkah Al-Mukarramah.

Wafat : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.

Makam : Tidak diketahui.


Tuesday, October 18, 2011

Berbahagialah Wahai Wanita


Siapa kata jadi perempuan itu senang?

Perlu tutup sana, tutup sini,

Cuba lihat budak lelaki, pakai baju pagoda pun orang tidak bising.

Perempuan. Stoking perlu pakai.

Cuba suruh budak lelaki jadi perempuan satu hari.

Pasti menangis air mata darah, kerana tidak tahan bertutup semua.

Tetapi, perempuan sentiasa sabar. Tengah panas masih boleh lagi memakai jubah.

Hebatkan perempuan?

Siapa kata jadi perempuan itu senang?

Tiap-tiap bulan, mesti ada penyakit. Hendak pergi kelas pun susah.

Kalau boleh, masa tengah jalan merasakan hendak meraung kerana kesakitan.

Cuba lihat budak lelaki , mereka nampak gembira. Kadang-kadang setahun sekali pun susah dapat sakit, tetapi sekali sakit, merungut bagai tidak ingat dunia.

Tetapi, perempuan hidup berpuluh-puluh tahun dengan penyakit tiap-tiap bulan, masih boleh tersenyum menyimpan kesakitan yang dialaminya.

Hebatkan perempuan?

Siapa kata jadi perempuan itu senang?

Hati ini Allah S.W.T jadikan sangat lembut.

Hati cepat sensitif.

Cuba lihat orang putus cinta. Kebiasaannya perempuan yang paling susah hendak lupa.

Lelaki selepas putus cinta cepat mencari pasangan baru.

Cuba pergi wayang tengok cerita Hindustan, siapa yang paling teruk menangis?

Perempuan bukan? Lelaki masih boleh ketawa.

Sungguh lembut hati perempuan. Tetapi dengan hati yang lembut itu perempuan dapat mengkagumkan lelaki. Hebat tidak perempuan?

Siapa kata jadi perempuan itu senang?

Apabila hendak keluar ke mana-mana, sentiasa ketakutan. Kerana berita asyik-asyik keluar cerita orang kena rogol, kena culik.

Lelaki pukul dua pagi masih boleh keluar minum kopi tengok bola.

Siapa kata jadi perempuan itu senang?

Jika dirogol, perempuan disalahkan kata tidak jaga pakaian,

Apabila buang anak, perempuan disalahkan cakap berhati binatang,

Apabila buat salah sikit, kena marah dengan suami,

Apabila bising terlebih, kena label perempuan tidak sopan

Betapa susah hendak jadi perempuankan?

Disebabkan susahnya hendak jadi perempuan inilah, ramai perempuan yang merajuk dengan Allah.

Mereka berkata, Allah S.W.T tidak adil.

Mengapa AllahS.W.T lebihkan lelaki?

Mengapa perempuan perlu dengar cakap suami?

Mengapa syurga perempuan terletak di bawah kaki suami?

Walhal jadi perempuan itu sangatlah susah. Bak kata orang, hendak jaga sepuluh anak lelaki, tidak susah seperti menjaga seorang anak perempuan.

Disebabkan perasaan negatif pada Allah S.W.T ini, ramai perempuan di luar sana yang ditolak.

Mereka pakai pakaian yang tidak menutup aurat dengan alasan, 'lelaki tak payah tutup pun!'

Mereka berani bertepuk tampar dengan lelaki. Mereka sanggup gadaikan diri mereka kerana percaya dengan janji manis kekasih yang busuk hati.

Kasihan pada mereka bukan?

Disebabkan fikiran yang negatif terhadap Allah S.W.T, mereka sanggup rosakkan diri mereka.

Mereka berkata mereka lakukan seperti itu kerana Allah S.W.T tidak adil.

Persoalannya sekarang,adakah benar Allah S.W.T tidak adil pada perempuan?

Betul, syurga perempuan terletak di bawah kaki suami.

Tetapi, cuba ingat kembali, syurga seorang anak lelaki terletak di bawah kaki siapa jika bukan pada kaki ibunya?

Betul, isteri kena ikut cakap suami.

Tetapi, seorang anak lelaki perlu taat pada ibunya tiga kali lebih utama daripada ayahnya.

Tidak adil lagikah Allah S.W.T pada perempuan?

Allah bukan setakat adil, tetapi Allah itu sangat sayang pada perempuan.

Untuk lelaki, syurga isterinya terletak di bawah kakinya.

Jika paling banyak lelaki ada empat orang isteri.

Cuma ada empat orang yang syurganya bergantung pada seorang lelaki itu.

Tetapi perempuan, ditakdirkan ada lima belas orang anak lelaki.

Bermakna ada lima belas orang yang syurganya terletak pada seorang perempuan itu.

Masya-Allah, hebatnya perempuan bukan?

Mengapa perempuan hebat?

Kerana kasih sayang Allah S.W.T yang menjadikan kita hebat!

Cuba didengari pula lagu-lagu yang berkumandang pada radio.

Banyak lagu berkaitan perempuan bukan?

Jarang kita dengar lagu berkaitan lelaki.

Sayang sungguh Allah S.W.T itu pada perempuan, hingga perempuan dikasihi seperti itu sekali di dunia ini.

Lihat pula apabila seorang lelaki berjaya.

Orang akan berkata, 'Disebalik kejayaan seorang lelaki terdapat seorang perempuan di belakangnya.'

Kita tidak pernah dengar orang berkata, 'Disebalik kejayaan seorang perempuan terdapat seorang lelaki di belakangnya.'

Sungguh hebat Allah S.W.T jadikan perempuan itu.

Masih tidak adil lagikah Allah S.W.T pada perempuan?

Hakikatnya, Allah S.W.T terlampau adil pada perempuan.

Disebabkan susahnya hendak menjadi perempuan ini, perempuan senang hendak masuk syurga. Berdasarkan satu hadis :

"Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kehormatan dan taat kepada suami, dia akan disuruh memasuki syurga melalui mana-mana pintu yang dia sukai." (Hadis Riwayat Ahmad)

Tidak adil lagikah Allah S.W.T pada perempuan?

Oh perempuan, sedarlah.

Betapa sayangnya Allah S.W.T pada kita. Betapa cintanya Allah S.W.T pada kita.

Tetapi, mengapa kita rosakkan diri kita kerana fikiran-fikiran negatif yang tidak berasas pada Allah S.W.T?

Allah S.W.T jadikan perempuan itu sebagai hiasan dunia.

Bayangkan, dunia yang besar ini, dunia yang cantik ini, kita jadi hiasannya.

Seindah-indah hiasan itu adalah wanita solehah.

Betapa ruginya kita sekiranya ditolak menjadi seindah-indah perhiasan dunia bukan?

-Artikel iluvislam.com

Monday, September 26, 2011

Respon Isu Gejala Sosial & Jemputan Majlis Minum Petang Bayt Al-Rahmah

Bismillahirrahmanirrahim.




Majlis Minum Petang Bersama PROF. DATO’ DR. ZALEHA KAMARUDIN DAN PROF. DR. JARIAH MAS’UD dengan tajuk perbicaraan “ MENDEPANI KRISIS SOSIAL DALAM KELUARGA ISLAM ”.

Tarikh : 15 Oktober 2011 (Sabtu)
Masa : 2.00 – 5.30 petang
Tempat : Dewan Masjid Shalahuddin Al-Ayyubi, Taman Melati, Gombak, Selangor.
Pendaftaran: RM 80 seorang (Dewasa), RM 50 (Pelajar)
Sebarang pertanyaan, sila berhubung dengan Nor Akmariah Abdullah di talian 019-390 1098/1038

Wednesday, September 21, 2011

BALASUNGKAWA - Profesor Dr Khalijah Salleh, Serikandi Muslimah Mithali Kontemporari

Pada jam 10 pagi Sabtu 17 September 2011 bersamaan 19 Syawal 1432, gugurlah serikandi yang amat dikasihi, Profesor Dr Khalijah Salleh, bekas pensyarah Jabatan Fizik, UKM dan paling utama mantan Ketua Helwa ABIM, kalau tidak silap Ketua Helwa yang pertama, yang juga di antara pengasas ABIMHELWA. Pemergian Allahyarhamah K Jah (nama gelaran beliau di kalangan Helwa ABIM) memang diratapi oleh seluruh warga ABIM, baik wanita mahupun lelaki.

Sepanjang hari-hari terakhir beliau yang dirawat di HUKM, pelawat tidak putus-putus mengunjungi beliau. Ketabahan beliau menghadapi saat terakhir itu sukar dilupakan. K Jah seperti biasa amat bersemangat dan mentally alert. Dia kenal dan tahu siapa pelawatnya dan dalam keadaan yang sakit, masih ingin berbicara dengan senyuman manisnya yang menjadi trademarknya. Melihat beliau ketika itu sukar untuk percaya beliau sedang menanti saat-saat terakhir.

Saya mengenali K Jah kali pertama di Kolej Tunku Kurshiah Seremban. Beliau datang ke Kolej untuk memberi ceramah motivasi atas undangan Murid Tua (inilah istilah lama untuk alumni). Beliau diperkenalkan sebagai wanita Melayu pertama meraih ijazah sarjana muda bidang fizik. Memang K Jah seorang yang boleh menaikkan semangat pendengarnya. Sejak itu jiwa saya turut berkobar-kobar mahu meneladaninya. Menjadi perintis Melayu dalam apa jua bidang yang mungkin semata-mata ingin membuktikan orang Melayu juga mampu. Dan akhirnya saya ke Amerika Syarikat untuk mendalami bidang matematik yang ketika itu memang kurang diceburi oleh anak Melayu malahan dicemuh bahawa bangsa Melayu lemah matematik dan sains. Begitulah kesan K Jah pada diri saya ketika itu yang masih di bangku sekolah menengah. Saya pernah bertemu K Jah di University of California Davis ketika beliau meneruskan pengajiannya di peringkat tertinggi. Dan ditakdirkan Allah, kami bertemu lagi dalam jemaah yang kita kasihi iaitu ABIM - saya masih bertatih mengikut jejak langkahnya.


Alhamdulillah, kami terus bersama dan jurang adik dan kakak semakin tipis - sama-sama selaku ahli profesional Muslim yang ingin memajukan umat Islam menerusi da'wah dan juga bidang keilmuan. K Jah seorang pejuang profesional yang amat passionate dalam apa sahaja yang beliau lakukan. Beliau amat passionate dengan ABIM, ilmu dan pendidikan. Beliau tidak akan menolak sebarang undangan Helwa mahu pun Biro Pendidikan ABIM dalam aspek pengongsian ilmu khususnya cinta pertamanya - sains Islam. Di akhir fasa perjuangannya, Allahyarhamah amat prihatin tentang keperluan memasyarakatkan sains di kalangan orang Melayu dan pentingnya hubungan sains dan aqidah. Sains sebagai ayat-ayat Allah swt. Walaupun sudah didiagnos dengan kanser, selagi beliau boleh berdiri, bercakap dan kuat, beliau masih meneruskan perjuangannya - hatta ke Indonesia - berbicara tentang sains Islam sebagai memenuhi undangan IIIT Indonesia. Beliau masih menghadiri majlis Helwa di awal tahun 2011 walaupun kekuatannya sudah mula merosot.

Usaha K Jah bukan sahaja untuk ABIM malahan semua organisasi Islam seperti Yadim dan IKIM. Kegigihannya dalam bidang sains terbukti bila K Jah dilantik sebagai felo oleh Akademi Sains Malaysia. Beliau tidak lupa mengundang saya pada hari bersejarah perlantikannya itu yang beliau gunakan untuk membentangkan mesej cinta pertamanya.

K Jah memang seorang serikandi dan wanita mithali. Selain daripada kerjayanya, da'wah dan aktiviti sosialnya, K Jah juga merupakan isteri dan ibu yang berjaya.


Pada malam jumaat yang lepas iaitu jam 3.19 pagi, kita dikejutkan oleh sms daripada K Jah. Pesannya ringkas sekali:

Tk dear all. Help baca Yassin now. I may be leaving now. Salam maaf zahir n batin.

Benar-benar sms - ringkas dan padat. K Jah seolah-olah sudah tahu bila beliau akan pergi. Ini mengingatkan kita cara Imam al-Ghazzali sudah maklum beliau akan meninggalkan dunia yang fana ini dan memakai kain kafannya. Masha'Allah. Kata-kata K Jah memang benar - beliau berangkat meninggalkan kita terutama ahli keluarganya yang dikasihi pada hari Sabtu. Sejak menziarahi K Jah di HUKM saya bacakan surah Yassin beberapa kali diiringi doa: Ya Allah, jika takdirnya sembuh, sembuhkkanlah K Jah dan jika takdirnya pergi menghadapiMu, mudahkanlah pemergiannya. Allah lebih menyayanginya dan mengetahui rahsia-rahsia kita.

Kini saya cuma dapat menenangkan diri dan perasaan bahawa K Jah pergi dalam keadaan husnul khatimah dan kejayaan muflihun. Innalillahi wa inna ilayhi rajiun. Semuga Allah mengampunkan Allahyarhamah K Jah dan menghimpunkan ruhnya bersama golongan abrar.K Jah sudah pergi namun kita mestilah teruskan usahanya dalam bidang keilmuan dan pendidikan untuk memantapkan sains Islam dan aqidah umat. Inilah sekurang-kurangnya kita dapat lakukan sebagai mengenang jasanya yang tidak ternilai.wabillahi tawfiq walhidayat.


Allahu 'alam.Al-fatihah.


NukilanRosnani Hashim
Mantan Ketua Helwa ABIMProfesor,
Institut Pendidikan UIAM.10.30 malam.17 september 2011